Jepit Barefoot Sandals terinspirasi dari satu prinsip sederhana: keseimbangan adalah fondasi. Bukan hanya dalam olahraga, tapi dalam cara kita bergerak, berdiri, dan menjalani hidup sehari-hari.
Untuk memahami itu, kami melihat ke laut: tempat di mana keseimbangan bukan teori, melainkan kebutuhan. Ombak tidak pernah sama. Permukaannya berubah setiap detik. Dan di atas papan selancar, satu hal yang menentukan segalanya adalah kaki.
Dari sana, kolaborasi ini bermula bersama Taina dan Pajar.
Balance sebagai Fondasi: Perspektif Pajar

Bagi Pajar, surfing selalu dimulai dari satu hal yang paling mendasar.
“Balance itu yang utama di surfing. Karena balance yang paling penting dari semuanya.”
Di atas papan selancar, pusat kontrol ada di telapak kaki. Setiap perubahan arah ombak diterjemahkan lewat tekanan kecil di ujung jari, tumit, dan pergelangan. Respons harus cepat, tapi tetap tenang.
“Paling penting bagian kaki sih. Kaki dan cara kita bernafas.”
Kaki menjaga stabilitas. Napas menjaga ritme. Meski begitu, Pajar tidak melihat surfing sebagai sesuatu yang kaku atau penuh tekanan. Ia menikmati prosesnya: mendengar suara ombak, merasakan perubahan angin, membaca karakter laut yang selalu berbeda.
“I love surfing, I love the ocean. The ocean is never boring. The ocean has everything.”
Dari Pajar, kami belajar bahwa keseimbangan bukan hanya soal berdiri tegak, tetapi soal kemampuan beradaptasi. Kaki menjadi pusat respons, menghubungkan tubuh dengan permukaan yang tidak pernah diam.
Surfing sebagai Jalan Pulang: Perspektif Taina

Jika Pajar berbicara tentang aspek teknis dan kesenangan, Taina melihat surfing dari sisi yang lebih personal. Ia mulai karena cinta.
“Bapak membesarkanku sendirian dan Ia sangat memanjakan aku. Ia masak buat aku dan mencuci bajuku. I am his little princess”
“Bapak ngajarin surfing dan dia cinta sekali surfing.”
Surfing menjadi ruang kebersamaan dengan ayahnya. Ia tidak pernah memiliki ambisi untuk menjadi yang terbaik di dunia. Yang penting adalah berada di laut, di tempat yang sama dengan orang yang ia cintai.
Ketika ayahnya meninggal, Taina berhenti surfing selama delapan bulan.
“I lost my purpose. Hidupku kacau.”
Kehilangan itu membuatnya menjauh dari laut. Surfing yang dulu terasa hangat berubah menjadi ruang yang menyakitkan karena di sanalah ia merasa paling terhubung dengan ayahnya.
Namun perlahan, ia kembali. Bagi Taina, laut menghadirkan rasa koneksi yang lebih luas.
“If I feel connected to nature, then connected to myself, then I feel closer to God and slowly accepting that it connects me with my father too, in a best possible way”
Bagi Taina, surfing bukan sekadar tujuan, melainkan pintu. Pintu untuk membangun komunitas, menyatukan orang-orang, dan menginspirasi perempuan muda agar berani menjadi diri sendiri serta kembali ke alam. Ia ingin menjalani hidup dengan penuh cinta dan petualangan, hingga suatu hari nanti punya cerita yang membahagiakan untuk dikenang.
Dari Ombak ke Desain Jepit

Inspirasi ini kemudian diterjemahkan secara konkret ke dalam desain Jepit Barefoot Sandals.
Karena terinspirasi dari kaki yang bekerja di lingkungan basah dan dinamis, Jepit dibuat dengan teknik pelekatan yang kuat serta penggunaan lem tahan air, sehingga tetap kokoh meskipun sering terkena air. Struktur solnya mengikuti bentuk natural telapak kaki untuk memberi rasa lebih stabil dan nyaman saat dipakai sehari-hari, baik di permukaan kering maupun basah.
Ringan, fleksibel, namun tetap stabil. Dan, 15% dari foam-nya terbuat dari Alga. Langkah kecil kami, untuk tak hanya ramah untuk kaki, tapi juga lebih ramah dengan bumi yang dipijaknya.
Bagi kami, kaki bukan sekadar alat untuk berdiri. Ia adalah titik keseimbangan antara tubuh dan permukaan tempat kita berpijak. Dan dari kaki-kaki terkuat di laut, Jepit belajar bagaimana seharusnya sebuah sandal dibuat.